Showing posts with label Dunia. Show all posts
Showing posts with label Dunia. Show all posts

Friday, January 6, 2017

Kasus pelatihan militer di Perth cerminan ketidaktahuan warga Australia soal Indonesia?



Pembekuan hubungan kerja sama antara TNI dan militer Australia ditengarai dipicu oleh ketersinggungan pihak TNI.
Dalam laporan harian Kompas, insiden berawal ketika pelatih Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mengajar di fasilitas pelatihan pasukan komando Australia di Perth.
Sejumlah laporan media menyebut bahwa sang pelatih mendapat beragam pertanyaan dari para peserta didik saat berdiskusi mengenai beragam hal, antara lain kiprah militer Indonesia dalam peristiwa 1965, kebebasan menentukan nasib sendiri di Papua Barat, hingga aksi di Timor Leste sebelum wilayah itu merdeka.
Puncaknya, dia menemukan tulisan berlaminating yang isinya memelesetkan Pancasila menjadi 'Pancagila'.

 Baca : Tepatkah langkah TNI bekukan kerja sama militer dengan Australia?

 Baca : Menhan Australia yakin hubungan militer dengan Indonesia segera pulih

Sang pelatih kemudian melaporkan kejadian itu kepada pimpinan TNI dan direspons dengan 'penundaan sementara' seluruh kerja sama militer dengan Australia, walau Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan mengatakan hanya program pelatihan bahasa di satuan khusus Australia yang dihentikan sementara.
Lepas dari bagian kerja sama yang dibekukan, laporan sang instruktur soal pengalaman di Perth diakui Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo.
"Tentang tentara yang dulu Timor Leste, Papua juga harus merdeka dan tentang Pancasila yang diplesetkan jadi 'Pancagila'. Tidak benar dan saya hentikan dulu (kerja sama)," kata Gatot kepada wartawan, Kamis (05/01).
Pengalaman instruktur Kopassus di fasilitas pelatihan militer Australia menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar pengetahuan warga Australia terhadap Indonesia? Dan apakah warga Indonesia di Australia kerap menerima pertanyaan soal politik, ekonomi, dan sosial-budaya Indonesia dari masyarakat setempat?
Bhatara Ibnu Reza yang mengenyam pendidikan di Universitas New South Wales, Sydney, mengaku warga Australia yang ditemuinya sangat bebas berpendapat dan kritis bertanya mengenai berbagai hal, termasuk soal kemerdekaan Papua dan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.
"Demonstrasi soal Papua, misalnya, adalah hal biasa karena itu kebebasan berpendapat. Dan itu tidak menggambarkan posisi pemerintah Australia terhadap Indonesia," ujar Bhatara.


australia, indonesia

Ketidaktahuan soal Indonesia

Meski bebas berpendapat dan kritis, bukan berarti rata-rata warga Australia gencar mengajukan pertanyaan soal Indonesia.
Sastra Wijaya, yang berprofesi sebagai wartawan Indonesia di Australia, mengaku sangat jarang menerima pertanyaan soal Indonesia.
"Kalaupun ada yang bertanya, mereka adalah orang yang ingin betul-betul tahu (soal Indonesia). Lain dari itu, kebanyakan tidak mau tahu," kata Sastra, seraya merujuk survei mengenai persepsi warga Australia dan Indonesia.
Berdasarkan survei firma EY Sweeney yang dilakukan atas pesanan Pusat Australia-Indonesia (AIC), sebanyak 74% warga Indonesia merasa punya pemahaman yang baik atau cukup baik tentang Australia.
Sebaliknya, hanya 53% orang Australia yang merasa punya pengetahuan baik atau cukup baik soal Indonesia.
Nuim Khaiyath, yang merupakan jurnalis senior asal Indonesia di Australia, tidak kaget dengan hasil survei tersebut. Menurutnya, hasil survei itu menggarisbawahi perbedaan antara Indonesia dan Australia.
"Tidak ada di dunia ini, dua negara bertetangga yang satu sama lain saling bertolak belakang dari segi budaya, agama, dan lain-lain, seperti Indonesia dan Australia," kata Nuim.
Justru dengan perbedaan itu, menurut Khaiyath, warga kedua negara mendapat kesempatan untuk saling memahami.
"Warga Australia berkepentingan dengan Indonesia, begitu juga sebaliknya. Kalau Indonesia aman tenteram, maka Australia tidurnya bisa nyenyak," kata pria tersebut sembari berseloroh.

Tepatkah langkah TNI bekukan kerja sama militer dengan Australia?

TNI

 Image caption Unit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berlatih bersama pasukan udara Australia di Perth, Australia
Keputusan TNI membekukan kerja sama militer dengan Australia dianggap tepat oleh pengamat dari CSIS Evan Laksmana. Seorang pengamat di Australia sementara itu mengatakan pasang-surut hubungan Indonesia-Australia antara lain disebabkan oleh 'saling curiga'.
Juru bicara TNI Mayjen Wuryanto mengatakan kerja sama ditunda sementara akibat masalah teknis, namun menolak menjelaskan lebih lanjut yang menjadi penyebab penundaan kerja sama militer Indonesia dengan Australian Defence Force (ADF), angkatan bersenjata Australia.
Harian Kompas menulis bahwa hal itu dipicu pengalaman pelatih Kopassus yang mengajar di sekolah pasukan khusus Australia dan menemukan bahan pelatihan 'yang menjelek-jelekkan TNI serta menemukan tulisan lain yang isinya menghina lambang negara Pancasila'.
"Mungkin salah satunya seperti itu, tapi banyak hal-hal terkait yang harus disempurnakan untuk diperbaiki," kata Wuryanto kepada BBC Indonesia.
"Koordinasi terus dilaksanakan antara TNI dengan angkatan bersenjata Australia, tetap ada pembicaraan, ada komunikasi."


Pengamat militer dari CSIS (Centre for Strategic and International Studies) Evan Laksmana menilai tindakan Panglima TNI untuk meninjau kembali kerja sama antar kedua institusi sudah tepat dan tegas.
"Memang ada beberapa aspek dari kerja sama pelatihan dan pendidikan Australia dan Indonesia yang sudah waktunya untuk ditinjau kembali. Langkah Panglima kan tidak menutup kemungkinan untuk membuka kembali hubungan kedua militer. Dan saya rasa dari segi otonomi, karena memang ini ada di ranah kerja sama antara TNI dan ADF, memang sudah menjadi wewenang Panglima mau me-review atau tidak," papar Evan.
"Saya rasa sebagai bukti ketegasan kita, sebagai bukti bahwa kita juga reasonable (masuk akal) saya rasa langkah untuk me-review itu sudah tepat."


TNI
Menurut Evan, persoalan kerja sama militer ini bukan mewakili persoalan bilateral secara lebih luas sehingga tidak perlu diperuncing.
"Ini persoalan hubungan kerja sama TNI dengan ADF dan bukan persoalan secara bilateral yang lebih luas sampai harus melibatkan nota protes diplomatik dan sebagainya," kata Evan.
Evan menambahkan, hubungan kerja sama militer antar Indonesia dan Australia sama-sama menguntungkan kedua negara khususnya dalam hal keamanan maritim dan penanganan terorisme. Namun yang menjadi kunci kedekatan hubungan antar dua negara saat ini bukanlah politik dan militer, melainkan hubungan dagang dan investasi.
"Dari Pak Jokowi dan Pak Turnbull (PM Australia) dia berkunjung ke Jakarta dan kedua negara mempunyai impian bersama untuk shared prosperity (kemakmuran bersama) dan kerja sama bilateral yang paling penting sekarang adalah persoalan trade (dagang). Mungkin saatnya sekarang kita menggeser salah satu landasan hubungan kedua negara bukan lagi pertahanan, tapi perdagangan dan investasi," jelas Evan.

Saling curiga

Di sisi lain, tak bisa dipungkiri hubungan kedua negara kerap mengalami gejolak, termasuk ketika kapal perang Australia masuk ke perairan Indonesia pada akhir 2013. Dua tahun kemudian aparat Australia dilaporkan membayar awak perahu pengangkut pengungsi untuk memutar balik ke perairan Indonesia.
Hubungan kembali memanas ketika dua terpidana narkoba asal Australia dieksekusi mati pada 2015.
Menurut Evan hal ini disebabkan kurangnya kepercayaan antara kedua pihak.
"Pengalaman Timor Timur (Timor Leste) itu cukup kuat yah. Pengalaman tahun 1999 itu saya rasa meninggalkan bekas luka yang cukup dalam dan memang belum hilang sepenuhnya. Artinya rasa kepercayaan dari kita pun baru belakangan pelan-pelan pulih," kata Evan.


Hal ini juga ditegaskan Dave McRae, peneliti dari Asia Institute, Universitas Melbourne.
"Meskipun sikap saling curiga itu ada, namun selama hampir 20 tahun sejak akhir zaman Suharto, kerjasama antara Australia dan Indonesia cenderung meningkat meskipun ada gejolak-gejolak tadi," jelas Dave.
"Bisa jadi itu polanya ke depan bahwa kerja sama meningkat terus di tingkat pemerintah tapi sewaktu-waktu tetap akan ada gejolak seperti yang sering terjadi beberapa tahun terkahir ini."
"Jadi tantangan bagi kedua negara ke depan adalah bagaimana bisa mendalami sikap yang saling memahami dan saling menguntungkan di antara kedua negara karena bagaimanapun letak geografis Australia dan Indonesia tidak akan berubah dan ke depan Australia dan Indonesia menghadapi banyak tantangan yang menyangkut kedua negara."

 TNI


Pada Oktober 2016, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu dan Menteri Pertahanan Australia Marise Payne bertemu di Bali untuk membahas kerja sama dan isu-isu pertahanan kedua negara.
Kunjungan Payne ke Indonesia itu adalah kunjungan pertamanya sebagai menteri mertahanan.
Hingga kini belum jelas sampai kapan pembekuan kerja sama militer ini akan berlangsung namun Menteri Pertahanan Payne sudah menyatakan akan melakukan penyelidikan atas materi yang dianggap menghina itu.
Ini adalah kali kedua kerja sama militer dihentikan sementara, setelah sebelumnya pada 2013 Australia dilaporkan menyadap telepon Presiden Yudhoyono.

Menhan Australia yakin hubungan militer dengan Indonesia segera pulih

australia, militer


Mnteri Pertahanan Australia, Marise Payne, meyakini Indonesia akan memulihkan kerja sama militer dengan negaranya dalam waktu dekat.
Keyakinan Payne mengemuka setelah pemerintah Australia menggelar investigasi mengenai "bahan-bahan pengajaran" di fasilitas militer yang membuat Indonesia merasa terhina.
"Saya berharap bahwa pada kesimpulan penyelidikan, saat kami bisa menunjukkan kepada Indonesia langkah-langkah yang kami ambil di Australia untuk menangani kerisauan-kerisauan ini, kami akan mampu mendiskusikan hal-hal untuk melanjutkan hubungan," kata Payne kepada Australian Broadcasting Corp (ABC).


Payne tidak menyebutkan apakah ada individu yang mendapat sanksi atas insiden yang berbuntut pada pembekuan hubungan militer Indonesia-Australia. Sebab, kata Payne, penyelidikan masih berlangsung.
Menurut Payne, penyelidikan mengenai hal yang dipermasalahkan Indonesia akan segera rampung.
Juru bicara TNI, Mayjen Wuryanto, enggan menyebutkan secara rinci mengapa TNI memutuskan "menunda sementara" kerja sama militer dengan Australia sejak Desember 2016.
Harian Kompas menulis bahwa hal itu dipicu pengalaman pelatih Kopassus yang mengajar di sekolah pasukan khusus Australia dan menemukan bahan pelatihan 'yang menjelek-jelekkan TNI serta menemukan tulisan lain yang isinya menghina lambang negara Pancasila'.
"Mungkin salah satunya seperti itu, tapi banyak hal-hal terkait yang harus disempurnakan untuk diperbaiki," kata Wuryanto.

australia, militer

Soal Papua

Payne mengaku topik mengenai Papua juga diungkit oleh Indonesia.
"Isu Papua Barat dikemukakan oleh menteri pertahanan Indonesia," kata Payne. Namun, tambahnya, Australia "tentu" mengakui "kedaulatan dan integritas teritorium" Indonesia.
Payne membantah tudingan bahwa Australia berupaya merekrut prajurit-prajurit Indonesia di masa lalu, sebagaimana diutarakan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, dalam pidato pada November 2016 lalu.
"Setiap kali ada program pelatihan, seperti terjadi baru-baru ini, lima atau 10 siswa terbaik akan dikirim ke Australia. Itu terjadi sebelum saya menjadi panglima, jadi saya biarkan. Ketika saya menjadi panglima angkatan bersenjata, itu tidak terjadi lagi. Mereka pasti akan direkrut," kata Gatot, dikutip ABC.
Pembekuan hubungan militer Australia dan Indonesia pernah terjadi pada 2013 saat Australia dituding menyadap telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Cemburu pada Istri, Suami Ini Mogok Bicara 20 Tahun

Cemburu pada Istri, Suami Ini Mogok Bicara 20 Tahun  
REUTERS/Fabrizio Bensch
TEMPO.CO, Tokyo- Seorang suami di Jepang dilaporkan mogok bicara dengan istrinya selama 20 tahun karena cemburu dengan perhatian yang istrinya berikan kepada anak-anak mereka.

Hal itu terungkap melalui laporan dari putra pasangan itu yang berusia 18 tahun yang  meminta stasiun TV Hokkaido untuk mendamaikan orangtuanya yang tidak pernah bertegur sapa selama 20 tahun.

Si ayah, Otou Katayama, dilaporkan hanya mengomel dan mengangguk sebagai tanggapan atas upaya isterinya, Yumi berbicara dengannya. Suami istri ini memiliki  tiga anak yang saat ini menginjak remaja.

Stasiun TV Hokkaido pun merespon melalui sebuah program acara untuk mendamaikan Katayama dan istrinya tersebut. Satu pertemuan diatur bagi pasangan itu di bangku di taman tempat mereka pertama kali berkencan dan anak-anak mereka melihat dari jauh.

"Entah bagaimana sudah lama kita tidak berbicara," kata Katayama, berasal dari  Nara, di selatan Jepang seperti dikutip dari Straits Times pada 3 Januari 2017.

"Kamu terlalu berlebihan dalam memperhatikan anak-anak. Yumi, sampai sekarang kamu banyak menghadapi kesulitan. Saya ingin kamu tahu bahwa saya berterima kasih untuk segala-galanya," kata Katayama melanjutkan pembicaraan.

Katayama lalu mengungkapkan alasan mendiamkan istrinya selama 20 tahun tak lain rasa cemburu dengan perhatian yang istrinya beri pada anak-anak.

"Saya cemburu, makanya saya merajuk. Saya rasa sekarang sudah terlambat untuk mengubah keadaan."

Yumi dengan penuh perhatian mendengarkan suaminya. Di akhir pembicaraan, mereka berdua berjanji akan bekerja sama merawat anak-anak mereka.

Tak jauh dari tempat orang tua mereka berbicara, tiga anak mereka bersembunyi di balik pohon. Ketiga remaja ini terharu mendengarkan percakapan kedua orang tua mereka.

Kisah Katayama- Yumi ditayangkan di televisi merespons tradisi  pria dan wanita Jepang enggan berkencan dengan orang yang baru dikenal atau tidak pernah diketahui sebelumnya. Mereka biasanyaa hanya akan menikah dengan teman yang telah mereka kenal sejak lama. Hal tersebut membuat angka pernikahan Jepang menurun.

Catatan pemerintah Jepang tahun 2016 menyebutkan,  69 persen pria dan 59 persen wanita Jepang tidak memiliki teman hidup.